Mengenal Sejarah Singkat Kesultanan Aceh

Pada 8 September 1507 Sultan Ali Mughayat Syah merupakan sultan pertama kerajaan islam yang pernah berdiri di Aceh. Kesultanan Aceh Darussalam mengembangan sistem pendidikan militer demi menentang imperialisme bangsa Eropa yang mana mulai memasuki wilayah – wilayah di Indonesia.

Masa Kejayaan Kesultanan Aceh

Pada masa kejayaan kesultanan Aceh, banyak orang kaya yang mengendalikan sultan sehingga kepemimpinannya sering kali dipertanyakan. Beberapa kali mengalami pergantian kepemimpinan yang bisa dimanipulasi oleh para orang kaya, hingga akhirnya pada saat Alaiddin Riayat Syah Sayyid Al-Mukamil memimpin. Sultan tersebut segera menghakiri ketidakstabilan dalam pemerintahan sultan, dengan cara menumpas para orangkaya yang berlawanan dengan kepemimpinannya.

Perluasan Wilayah

Pada sekitar tahun 1607 hingga 1636 merupakan masa dimana kesultanan Aceh mengalami perluasan wilayah dan sangat berpengaruh di bawah kepeminpinan Sultan Iskandar Muda. Wilayah yang berhasil direbut salah satunya adalah daerah Pahang, yang mana merupakan daerah penghasil timah terbesar dan paling utama pada masa tersebut.

Kemunduran Kejayaan

Kekuasaan kesultanan Aceh mengalami kemunduran yang disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari menguatnya kekuasaan kolonial Belanda hingga perebutan kekuasaan para pewaris tahta kesultanan. Banyak daerah kekuasaan kesultanan Aceh yang jatuh ketangan kolonial Belanda, mulai dari Minangkabau, Siak, Mandailing, Barus dan beberapa daerah penting lainnya.

Berbagai macam konflik internal dan ekternal terus berlanjut hingga masa kepemimpinan Sultan Mahmudsyah yang mana masih sangat muda dan lemah saat naik tahta. Berbagai macam diplomasi dilakukan untuk melawan kekuatan kolonial Belanda, namun kerap mengalami kegagalan. Pada tahun 1903 Sultan Muhammad Daud Syah menyerahkan diri kepada pihak kolonial Belanda.

Peninggalan Kesultanan Aceh

Walaupun kesultanan Aceh sangat besar pada masanya, namun tidak banyak bangunan peninggalan yang tersisa saat ini. Istana Dalam Darud Donya yang merupakan tempat tinggal sultan, saat ini dimanfaatkan sebagai pendopo Gubernur Aceh dan asrama keraton TNI Angkatan Darat. Banyak bangunan yang rusak atau bahkan hancur semasa perang aceh melawan kolonial Belanda, bahkan Istana Darud Donya dan Majid Raya Baiturrahman tidak luput.